Rabu, 28 Oktober 2015

Rangkuman Keruntuhan Jurnalisme


Rangkuman Buku
Keruntuhan Jurnalisme

 Hasil gambar untuk Universitas budi luhur

1.  Nama  : Rifky Fajriansyah
2.  NIM     : 1571506953
3.  Prodi  : Broadcast Jurnalism
4.  Kelas  : YB
5.  MK      : ICT

Fakultas Ilmu Komunikasi
Universitas Budi Luhur
2015

Hasil gambar untuk keruntuhan jurnalisme


TUJUAN
Buku ini di tulis untuk menceritakan kembali bahwa ada rasa kecewa pada jurnalisme,ada juga rasa khawatir dari penulis terhadap dunia jurnalisme. Pada isi buku tersebut adanya tentang amplop besar dan amplop kecil itu bisa di sebut bahwa jurnalisme yang tidak memiliki dunia independen. Selain itu tujuan untuk mempubliskasikan buku keruntuhan jurnalisme ini di karenakan mahasiswa universitas budi luhur di berikan tugas untuk meresensi buku yang berjudul Keruntuhan Jurnalisme ini oleh dosen kami Pak Dudi Iskandar.




Bab 1
INDIKATOR KERUNTUHAN JURNALISME

A. Jurnalisme Bias
Tak Kritis
     Menurut teori jurnalistik, unik dan memiliki keluarbiasaan merupakan dua poin dari new values (nilai berita). Dua nilai berita itu ada pada diri Jokowi. Satu nilai berita lain yang tidak sengaja dimiliki Jokowi proximity (kedekatan). Liputan media tentang Jokowi meningkat drastis, dramatis ketika ia menjadi Gubernur DKI Jakarta. Hal ini disebabkan semua media mainstream ada di ibu Kota. Makanya pasti selalu bersentuhan, bersinggung dengan apapun tentang Jokowi.
      Karena memiliki banyak nilai berita, Jokowi secara pribadai, Guberbur DKI Jakarta ataupun sebagai kader partai, selalu di kejar media. Ia pun memperoleh citra dan pencitraan positif selama 24 jam secara gratis! Sejak menjabat gubernur, tahun lalu, nyaris tidak ada berita miring/negatif tentang jokowi. Bahkan, ketika banjir besar melanda ibu Kota, sampai masuk ke Istana Negara, media memakluminya. Mereka menyebutnya siapapun gubernurnya, Jakarta pasti banjir. Bandingkan dengan sikap media terhadap gubernur sebelum Jokowi yang terkenal dengan jargon “Serahkan pada Ahlinya.”
     Dalam konteks itulah, sesungguhnya media sudah dimabuk kekuasaan. Ketika Jokowi berkuasa, ia sebagai idola. Begitu Jokowi menjadi musuh pemilik media, Jokowi pun digebukin dengan sedemikian rupa. Bias dalam jurnalisme berarti ada kepentingan yang menjadi latar belakang peliputan seseorang, termasuk Jokowi, selain kepentingan jurnalisme itu sendiri.
B. Junalisme dan ‘Amplop Besar’
     Pada dua milist institusi wartawan yang berbeda tertera ‘Undangan Mengambil THR (Tunjangan Hari Raya) di salah satu instasi pemerintahan tentu saja ada yang tertawa senang, ada yang mencibir dengan geram, ada yang mengkritik. Harus diakui, dinegeri ini pengusaha media bukanlah berasal dari wartawan yang idealis, meski tidak menutup beberapa media untuk perjuangan walaupun berdarah-darah. Para pebisnis akan melihat informasi tak lebih dari suatu komoditi yang diperjual belikan dengan mengabaikan makna sosial, budaya, atau politik dari informasi tersebut.
     Jika diteliti secara cermat ada dua ancaman terhadap demokrasi yang dipicu media. Yakni, pada isi berita dan struktur industri media yang dikuasai konglomerasi. Kepemilikan media sangat berpengaruh dengan cara media mengungkap isu. Kuatnya konglomerasi media akan mengancam demokrasi dan sistem politik di Indonesia. Banyak contoh yang bisa diapungkan bahwa kepentingan dan ideologi pemilik media banyak berpengaruh dalam mengupas fenomena dan realitas sosial kita.
C. Junalisme dan Budaya Copy Paste
     Kehadiran teknologi komunikasi dan informasi serta teknologi transportasi menyebabkan percepatan dan kecepatan dalam segala hal, termasuk dalam dunia jurnalisme, khususnya berkaitan dengan produksi berita di berbagai media. Komunikasi dan informasi berkembang ke arah penggelembungga, yang menciptakan masyarakat kegemukan, kegemukan informasi, komunikasi, tontonan, berita, dan data. Yang terpenting dari berita kini adalah kuantitas sebagai akibat dari jeratan kapitalisme global yang berinsikan tiga ideologi secara bersamaan, materialisme-pragmatisme-hedonisme.
     Dalam konteks jurnalisme, misalnya, percepataan dan kecepataan produksi berita telah mengubah alur berita dan kinerja bagi kru redaksi dan hasil berita bagi masyarakat.
            Berita yang harus berangkat dari kejadian atau peristiwa yang semula baru bisa dinikmati esok harinya melalui surat kabar, kini berubah dramatis dan drastis. Semua media, khususnya, online berlomba menyajikan yang terbaru, mereka mengejar kesegeraan. Tidak peduli salah. Toh, nanti bisa diganti, dicabut, dan tentu saja bisa diralat.
     Munculnya internet sebagai bagian dari teknologi komunikasi dan informasi menyebabkan kejadian tidak langsung menjadi wacana di media sosisal. Dari sinilah muncul di istilah citizen journalism.
     Di sisi lain, kamajuan teknologi komunikasi juga mengakibatkan wartawan menjadi pemalas. Untuk apa memverifikasi fakta, mengejar narasumber yang kualifaid, dan mendatangi tempat kejadian perkara jika semua persyaratan kejadian menjadi sebuah berita bisa diselesaikan melalui teknologi komunikasi dan informasi seperti telepon, pesan pendek, blackberry messager,whatapp,dll. Dalam kasus berita kriminal, tidak penting mencari saksi mata sebagai sumber utama berita selama ada keterangan dari kepolisian. Makanya sangat lucu ketika suatu waktu ada wartawan yang melihat pembunuhan harus konfirmasi ke polisi yang tidak mengetahui kejadian.
D. Jurnalisme Pembuat Heboh
     Perhaps what the media thought was big national news was not what was really important to the stock market (Robert J. Shiller).
Konstruksi Sosial Media Massa
     Salah satu pembentuk konstruksi realitas di dunia modern adalah media massa. Seraya melontarkan kritik terhadap Berger dan Luckmaan, Burhan Bugin menyebut media massa, termasuk surat kabar, menjadi variable yang sangat substantif dalam proses eksternalisasi, objektivikasi, dan internalisasi. Karena pengaruh media massa itulah ia memunculkan teori ini terletak pada sirkulasi informasi yang cepat dan luas yang disebarkan oleh media massa sehingga konstruksi sosial berlangsung sangat cepat dan sebarannya merata. Realitas yang dibangun media massa tersebut membentuk opini publik, massa cenderung apriori,dan opini massa cenderung sinis.
     Menurut Burhan Bugin, ada empat tahapan kelahiran konstruksi sosial media massa. Yaitu, penyiapan materi konstruksi, sebaran konstruksi, pembentukan konstruksi realitas, dan konfirmasi. Dari empat tahapan itu melahirkan dua model konstruksi realitas media massa, yaitu model analog dan refleksi realitas. Model pertama terjadi dan dibangun secara rasional dan dramatis terhadap suatu kejadian. Dari sini masyarakat mendapat realitas yang dikonstuksi media massa dari sebuah peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.
Konstruksi Berita
     Sebuah berita di suatu media, khususnya, surat kabar bukan hanya rangkaian fakta yang tersusun menjadi sebuah kalimat dan paragraf. Ia juga merupakan representasi dari pikiran dan sikap penulis dan asisten redaktur serta redaktur. Minimal segala latar belakang budaya, pergaulan, dan pendidikan wartawan sangat memengaruhi bagai mana fakta dikonstruksi dalam sebuah berita. Fakta yang hanya ditulis apa adanya akan kering gaya dan tidak nyaman dibaca. Gaya penyajian ini pula memuat berbagai warna. Dengan demikian mulai dari mencari, menemukan, dan mengkonstruksi fakta, wartawan sudah dikonstruksi dengan berbagai hal yang tidak netral dan independen.
     Dengan kata lain tidak ada teks media atau berita yang sepenuhnya objektif atau hanya kumpulan fakta yang dijadikan data untuk sebuah tulisan. Selalu ada campur tangan pikiran dan sikap penulis serta editor atau bahkan kebijaksanaan redaksi surat kabar tersebut. Institusi dan pemilik surat kabar adalah pemilik kepentingan mediahari ini.
     Ada tiga pertimbangan sebuah peristiwa menjadi berita disurat kabar, yaitu ideologis, politis, dan bisnis. Pertimbangan ideologis terjadi karena faktor pemilik atau nilai-nilai yang dihayatinya. Pertimbangan politis berangkat dari kenyataan bahwa pers tidak terlepas dari kehidupan politik. Apalagi pers adalah disebut sebagai pilar keempat demokrasi. Sedangkan kepentingan bisnis berkaitan dengan pemasukan dari iklan. Ketiga pertimbangan itu juga berpengaruh pada sudut pandang berita.

Era Baru Konstruksi Media
     Kemunculan media akses yang berbasis internet kian mempertajam efek media. Internet memiliki kemampuan yang belum ada sebelmnya untuk memperkembangkan bentuk baru relasi sosial. Untuk mendeskripsinya adalah melalui kebaruan interaktivitasnya. Karena itu interner menjadi sumber individu bebas dan kelompok kecil, dalam dunia egalitarian yang di dalamnya individu tidak dirintangi oleh batasan bangsa, kelas, gender, atau properti. Setelah media cetak dan elektronik menghegemoni masyarakat, dalam beberapa dekade terakhir, internet menjadi biang arus informasi.
     Selain sebagai media akses, internet juga kerap disandingkan sebagai konvergensi media dan media internal. Kini, hampir semua media cetak dan elektronik membarenginya dengan bentuk berita online, e-paper dan live streaming. Sebelumnya kita mendengar istilah tele-health, tele-banking, tele-conference, dan tele-tele yang lainnya sepagai implikasi dari revolusi komunikasi.
E. Jurnalisme Tanpa Konfirmasi
     Dalam konteks inilah sesungguhnya teori kekuasaan dan pengetahuan dari Michel Foucault menemukan kebenarannya. Menurut Foucault  power produce knowledge, yang didefinisikan sebagai pihak yang berkuasalah yang membuat pengetahuan. Adanya hubungan antara kekuasaan dan pengetahuan secara langsung menjelaskan representasi dari hubungan ‘power-knowledge’. Knowledge is power mengontrol tatanan sosial politik. Di pihak yang berseberangan adalah power is knowledge yang bermakna kekuasaan menumbuhkan pengetahuan.
Berita Tanpa Verifikasi
     Setiap kali Detasemen Khusus 88 Mabes Polri menangkap orang yang diduga teroris,media melalui proses jurnalistik serta merta menulisnyademikian. Berbekal keterangan sepihak dari kepolisian dalam konferensi pers, media manut saja seperti kerbau di cocok hidungnya. Bahkan, yang paling menggelikan ada televisi menyiarkan secara langsung penggerebekan teroris. Tanpa verifikasi fakta.
     Verifikasi fakta terbagi menjadi lima item indikator dalam verifikasi fakta. Yaitu :
1.    Wartawan jangan menambah atau mengarang apa pun.
2.    Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar, bersikaplah setransparan.
3.    Sejujur mungkin tentang metode dan motivasi.
4.    Bersandarlah terutama pada reportase sendiri.
5.    Bersikaplah rendah hati.
Filter Konseptual
     Menurut teori ini, manusia bisa menyaring informasi yang diterima yang disodorkan oleh media. Pesan yang diberikan media tidak serta merta memengaruhi sikap dan perilaku khalayaknya. Sebab individu itu memiliki filter konseptual atau daya tangkal untuk menyaring informasi tersebut.
     Dengan memiliki filter konseptual, masyarakat dalam istilah Raymond Bauer menjadi khalayaknya kepala batu. Teori ini menyatakan khalayaknya adalah aktif dan sangat berdaya. Mereka tidak adalah kelompok masyarakat yang tidak terpengaruh media, mereka berkepala batu. Dengan dua konsep komunikasi di atas manunjukan media memang berpengaruh tersebut disaring, diseleksi, dan diterima atau ditolak oleh filter konseptual.
     Media seharusnya menurut Kovach dan Rosentiel berpihak pada warga bukan negara atau kekuasaan. Namun dalam konteks berita terorisme, media melakukan sebaliknya. Hanya dengan inilah media akan menemukan dan mengemukakan kebenaran tentang terorisme. Sebab keberpihakan pada kebenaran merupakan elemen jurnalistik utama dari sembilan elemen milik Kovach dan Rosentiel.
F. Jurnalisme, Adakan Etika?
     Menurut pakar komunikasi Ibnu Hamad, ada tiga strategi yang digunakan media untuk membuat wacana. Yaitu, signing, framing, dan priming. Signing adalah penggunaan tanda-tanda bahasa, baik verbal maupun non verbal. Framing adalah pemilihan wacana berdasarkan pemihakan dalam berbagai aspek wacana. Sedangkan priming berati mengatur ruang atau waktu untuk mempublikasikan wacana di hadapan khalayak.
     Secara filosofis, jurnalisme harus tetap berpijak pada prinsip kebenaran, independensi, check and balance, cover all side, verifikasi fakta, dan keberpihakan pada yang lemah. Etika jurnalisme berfungsi untuk menjamin media memproduksi jurnalisme yang berkualitas dan publik pun mendapat informasi yang sehat dan mencerahkan.




Bab 2
PENYEBAB KERUNTUHAN JURNALISME

A. Postmodernisme
     Dalam setiap pergantian era atau narasi kehidupan manusia selalu menimbulkan dan ditandai dengan kotroversi. Jika mengikuti tiga fase kehidupan manusia versi August Comte, peralihan zaman dari mistis ke metafisis di guncang oleh munculnya agama. Agama ini yang mengantikan era mistis. Kasus penyaliban Jesus dan permusuhan Nabi Muhammad SAW adalah contoh bagaimana kemunculan zaman baru selalu ditentang kelompok pro-status quo. Peralihan ke zaman positiv dari metafisis pun mengalami hal yang serupa. Galileo Galilei adalah korban kaum agamawan. Kini tahapan positivis menjelang ajal. Era postmodernisme siap mengambil alih pemegang tampuk peradaban manusia selanjutnya.
Gejala Postmodernisme
     Postmodernisme merupakan gerakan kontemporer. Gerakan ini kuat dan modis. Namun, tidak jelas apa gerakan ini. Tidak hanya sulit mempraktikannya, bahkan sulit juga menolaknya. Oleh sebab itu, postmodernisme yang di anggap antitesis modernisme bukan saja proyeksi culture studies tetapi juga keniscayaan yang selalu mengelilingi dunia kita.
     Dari sudut istilah postmodernisme mengandung masalah. Ia menyimpan ambiguitas dan ketidak jelasan sosok. Salah satunya penggunaan imbuhan “post” dan “isme” bila “post” digunakan “sesudah” atau “ melepaskan diri” pendekatan tersebut terlalu diametral, hitam-putih. Dari sudut itu sebenarnya postmodernisme bukan lari dari paradigma modern, tetapi modern yang radikal. Mendefinisikan postmodernisme hanyalah mengundang munculnya masalah-masalah. Mendefinisikan postmodernisme, sama artinya dengan mendefinisikan apa yang bukan postmodernisme suatu kontradiksi logis.
     Kata “post” pada postmodernisme sering dipahami sebagai “pasca””sesudah” dalam pengertian urusan waktu, suatu kemajuan melampaui modernisme. Pemahaman tersebut salah kaprah karena postmodernisme justru sangat “anti” terhadap ide-ide kemajuan, emansipasi, dan linieritas sejarah.
     Yang paling mengagetkan adalah postmodernisme tidak bisa didefinisikan atau dikonseptualisasikan karena bertentangan dengan sesuatu yang sangat diharamkan oleh postmodernisme, yakni kesatuan.
Ajaran Pokok
     Friksi kultural, kata Ahmed, di dunia kita adalah persoalan sentral dalam memahami ajaran postmodernisme. Karena persoalan, termasuk pertarungan, budaya inilah postmodernisme tidak terpisah dari studi tentang kebudayaan sebagai efek dari media massa. Seperti di kutip Tony Thwaites dkk, melihat estetika postmodernisme merayakan perbedaan, kesementaraan, tontonan besar, fashion, dan komodifikasi bentuk-bentuk kultural.
     Gagasan postmodernisme adalah semua yang ada adalah sebuah teks, bahwa bahan pokok teks, apapun adalah makna-makna yang perlu diurai atau “didekonstruksi” pandangan yang objektif  perlu di curigai, dan hermenetika adalah nasibnya. Apapun sesuatu itu ditentukan oleh makna yang ada dalamnya. Adalah makna yang membuat sesuatu itu berubah dari sebuah keberadaan yang tidak jelas menjadi objek yang bisa di kenali. Namun harus diingat makna yang memberikan eksistensi juga menentukan status dan dengan demikian merupakan alat dominasi sesuatu yang dikritik postmodernisme.
    

            Secara sederhana ajaran postmodernisme terdiri dari pertama menolak universalitas. Menurut kaum postmodernisme tidak ada konsep yang bisa dipakai untuk semua umat manusia . Yang disodorkan adalah lokalize dan pluralistik. Trend ini juga merambah yang berkaitan dengan kenyakinan atau agama.
Karakteristik
     Mengutip Lyotard Ahmed. Mengatakan cie=ri-ciri postmodernisme adalah memilki keraguan terhadap metanaratif. Cara yang paling sederhana mengenal postmodernisme adalah mengetahui ciri-cirinya.
     Dalam pengamatan Ahmed mengatakan ciri khas “aliran yang membingungkan tersebut”, itu adalah, pertama, memahami postmodernisme berarti mengansumsikan pertanyaan tentang hilangnya kepercayaan terhadap proyek modernitas.
     Kedua, postmodernisme bersamaan dengan era media, dalam banyak cara yang bersifat mendasar, media adalah dinamika sentral.
     Ketiga, karena sebagian penduduk menepati wilayah perkotaan, dan sebagian besar lagi dipengaruhi ide-ide yang berkembang dalam wilayah ini, metropolis menjadi bagian sentral postmodernisme.
Tokoh
1. Jean Francois Lyotard (10 Agustus 1924 – 21 April 1998)
2. Jacques Derrida (15 Juli 1930 – 9 Oktober 2004)
3. Michael Foucault (15 Oktober 1926 – 25 Juni 1984)
4. Jean Baudrillard (27 Juli 1929 – 6 Maret 2007)



B. Cultural Studies
     Mengerikan. Begitulah kesan pertama membaca tentang teori komunikasi culltural studies. Rumit, kompleks, dan ibarat harus mengurai benang kusut. Tidak tahu dari mana mulainya. Membutuhkan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas untuk menyusun all about cultural studies dalam sebuah ranah yang mudah di pahami. Banyak kesulitan dalam memverifikasi cultural studies, mulai dari istilah budaya, ideologi, hingga wilayah kajian yang sangat luas. Hal ini sangat berbeda jika membedah satu kajian tertentu dengan objek yang sepesifik dan jelas.
Kegalauan Sematik
     Awalnya culture berarti pengolahan tanah. Perawatan dan pengembangan hewn ternak. Ia kemudian berkembang menjadi gagasan tentang keunikan adat istiadat suatu masyarakat. Sekitar 1920, ia baru masuk ke ranah antropologi melalui pikiran Frans Boas. Kini konsep kebudayaan melintas ke wilayah politik, sastra, ekologi, kajian perdamaian, dan komunikasi. Ia menggumpal dalam sosok interdisipliner bernama cultural studies.
     Tokoh awal cultural studies, Raymond Williams mendefinisikan budaya melalui pendekatan universal yang mengacu pada makna bersama yang terpusat pada aktivitas sehari-hari, nilai, material, simbolis, dan norma. Kebudayaan adalah pengalaman dalam hidup sehari-hari yang diwarnai beragam teks, praktik, dan makna.
     Kebudayaan kerap disamakan atau bahkan sulit dipisahkan dari istilah peradaban. Dalam bahasa Arab, misalnya, kebudayaan dan peradaban merupakan terjemahan sama dari kata tamaddun atau madinah. Ada juga yang menyamakan peradaban dengan hadharah.



Sejarah
     Culturan studies pertama kali muncul di Brimingham, Inggris melalui Birmingham Center for Contemporary Cultural Studies sekitar 1950an. Perintisnya adalah Richard Hoggart dan Raymond Williams. Namun, cultural studies menemukan kejayaannya di tangan Stuart Hall. Sebagai perbandingan tentang sejarah kelahiran cultural studies lain dari Richard West-Lynn H. Turner.
     Salah satu pemicu munculnya cultural studies adalah kegagalan teori Karl Marx. Bahwa akan muncul revolusi yang dilakukan kaum proletar. Dari revolusi Marx mengindealisasikan muncul suatu masyarakat tanpa kelas, di satu sisi, dan dominasi ekonomi kaum kapitalis akan berkurang, pada sisi lainnya. Namun, perkiraan Marx tersebut meleset.














Bab 3
KEMUNCULAN JURNALISME BARU

A. Jurnalisme dan Citizen Journalism
     Sekali lagi kemajuan komunikasi dan informasi memberikan kemajuan dalam salah satu aspek kehidupan manusia, khususnya dalam berbagai informasi sesama anak manusia. Melalui internet, kini, semua orang bisa menjadi wartawan. Profesi yang selama ini milik merak yang mencari berita untuk kepentingan media. Ia bergelar banyak nama. Yang paling popuker adalah istilah citizen jurnalism. Terminologi yang masih banyak pertanyaan, debatable.
Kooptasi Media
     Komunikator pada komunikasi massa tidak mau kehilangan kapitalis, pengaruh, dan penghasilan dalam mentransfer pesan komunikasi. Dengan kekuatan finansial, nama besar, dan organisasi yang profesional, mereka dengan cerdas menyediakan ruang dan sarana bagi masyarakat untuk berbagi informasi sebagai tandingan dari jurnalisme warga. Maka muncul kompasina, citizen journalism republika, blogtempo, forum detik dan sebagainya.
     Namun, kalau masyarakat cerdas, sekali wahana yang disediakan institusi media tetap memiliki ideologi, kepentingan, dan bisnis. Ini yang tidak disadari oleh masyarakat pengguna forum citizen journalism yang dimiliki media tradisional.
     Dengan demikian, sesungguh jurnalisme warga sebagai alternasi sekaligus peringatanbagi media tradisional yang sok dengan beragam berita yang sudah dikonstruksinya, dibumbui dengan jurnalisme warga adalah pioneer yang meruntuhkan jurnalisme tradisional yang belagu dan penuh trik.

B. Jurnalisme dan ideologi
     Ideologi  sebagai cara memahami dan menerima alam semesta, dan manusia. Cara memahami dan mengevaluasi segala benda dan gagasan yang membentuk lingkaran sosial. Memiliki dua hal. Yakni, ideologi secara inheren bersifat sosial dan tidak hanya digunakan sebagai fungsi koordinatif dan kohesif, tetapi juga membentuk identitas kelompok sosial tersebut yang membedakan dengan kelompok lain.
    Mengikuti penggunaan tersebut, ideologi memiliki karakteristik yang khas yakni adanya keyakinan, gagasan, kelompok tertentu, pandangan menyeluruh, politik, dan bersifat publik. Karena itulah ideologi kerap disandarkan dengan kekuasaan dan budaya politik tertentu. Misalnya, China dengan ideologi komunis dan ideoligi liberal di belahan dunia Barat. Rezim komunis China mempertahankan kekuasaan dengan memberangus kelompok yang tidak menganut ideologi komunis yang semua urusan ditentukan oleh negara. Sebaliknya, kelompok yang tidak mengikuti ajaran liberalisme dikecam oleh negara yang menganut ideologi liberalisme.
     Untuk negeri ini, ideologi Pancasila dan ideologi pembangunan digunakan rezim Orde Baru untuk melanggengkan kekuasaannya. Selama 32 tahun ideologi Pancasila menjadi tameng untuk melawan kelompok yang tidak setuju dengan sistem dan kebijakan Soeharto. Begitu juga dengan kata pembangunan. Ia menjadi mantra suci yang tidak boleh di ganggu gugat. Golongan yang mengkritik penerapan Pancasila oleh pemerintah dan sistem pembangunan dikatagorikan subversif. Hal ini pula diterapkan dalam tek berita media massa waktu itu. Melawan rezim berarti media tersebut siap diberangus atau dicabut SIUP-nya.
     Deskripsi di muka menemukan fakta bahwa ideologi memiliki dua sisi. Dalam perspektif  teoritis, ideologi sangat ideal-normatif. Ia mengusung nilai dan kebaikan dalam suatu kelompok masyarakat, budaya politik, atau negara tertentu. Namun, pada sisi praktis, ideologi menyimpan wajah seram dan kejam. Atas nama dan untuk menindas, memberangus, dan mengorbankan nyawa pemilik ideologi lain. Jika pengetahuan, dan ilmu pengetahuan membeku menjadi delusi atau kesadaran palsu sehingga menghalangi manusia berbuat kebaikan, keduanya menjadi ideologi.
     Dalam kajian semiotika, ideologi merupakan salah satu yang menjadi titik perhatiannya. Ideologi dalam perspektif semiotika bukan hanya ideologi ternama, tetapi juga ideologi yang berarti titik tolak orang, termasuk wartawan dalam menyampaikan dan menginterpretasikan pesan. Oleh sebab itu, setiap teks berita atau media dipastikan berpotensi mengandung bias media atau bias berita. Kondisi ini sangat sulit dihindari kalau bukan merupakan sesuatu yang given. Sebab teks berita tidak berada dalam ruang hampa. Ia selalu berada dalam situasi dan keberpihakan pada pihak tertentu pula.
C. Jurnalis dan Konvergensi Media
     Konvergensi adalah perubahan teknologi, industri, budaya, dan sosial dalam lingkaran media termasuk di dalam budaya kita. Beberapa gagasan mendasar dari konvergensi antara lain konten media mengalir ke beberapa platform media yang berbeda. Kerja sama di antara beberapa platform industri media, pencarian struktur baru untuk pembiayaan media antara media lama dan media baru serta perubahan perilaku khalayaknya media yang ke mana saja untuk mencari berbagai hiburan yang mereka inginkan.
Jurnalistik Interpretatif
     Konvergensi bukan hanya penyatuan konten sebuah berita bisa muncul di berbagai media yang berada dalam satu perusahaan, tetapi juga penyatuan dalam satu induk perusahaan media.
     Dengan konvergensi media, berita yang dahulu disebut mengabarkan peristiwa yang sudah terjadi, kini definisinya tersebut berubah menjadi peristiwa yang sedang terjadi. Bahkan, jika kita meggunakan paradigma jurnalisme interpretatif, berita bisa juga peristiwa yang akan terjadi. Berita interpretatif adalah sebuah pola berita dimana peristiwa hanya sebagai contoh berita. Ia diinterpretasikan dan ditafsirkan oleh pakar sehingga menghasilkan berita prediksi.
 

               Model jurnalistik interpretatif ini banyak dikembangkan di media cetak, surat kabar, khususnya. Strategi interpretasi ini merupakan cara untuk berbeda dengan berita online yang terlebih dahulu hadir. Artinya, beritanya sama tetapi interpretasinya berbeda. Meskipun, model jurnalistik ini pun sudah mulai dijalankan oleh   berbagai situ berita.
D. Jurnalisme dan Krisis Berita
             Kita mendapat informasi dan sumber yang di percayai sangat berpengaruh pada identitas masa depan. Yang tersisa dari berita dala era internet adalah medan yang sudah dikuasai dengan dan pertempuran menangguk untung dan kompetisi isi berita yang akan terus berlangsung pada masa mendatang. Dengan teknologi yang ada saat ini yang merambah semua industri, termasuk media, seperti apa bentuk media kita saat ini.
            Yang pasti media-media besar akan makin ketinggalan dalam melaporkan berita dari seluruh dunia. Media tak bisa bergerak cukup cepat dalam era yang serba terhubung betapa pun berbakatnya jurnalis dan wartawan lokal mereka serta segudang nara sumber yang mereka punyai. Justru, kabar terbaru dunia aka terus menerus datang dari media sosial, jejaring terbuka yang memudahkan warga berbagi informasi secara langsung, luas, dan dalam paket mudah di akses. Jika semua orang di dunia ini punya atau bisa mengakses telepon pintar mereka yang tesambung ke internet realitas yang tak begitu jauh berita baru yang menghebohkan hanyalah masalah nasib mujur dan kesempatan.
            Tugas kewartawanan akan tersebar lebih luas dibanding hari ini, sehingga cakupan dan ulasan mungkin berkembang tetapi mutunya berkurang di level internet. Pesan utama media menjadi petunjuk, pemeliharaan, dan pemeriksaan, semacam saringan terpercaya yang memilah-milah semua data dan menyoroti mana yang layak dan tidak layak dibaca, dipahami, serta dipercayai. Bagi mereka yang percaya pada media mapan, validasi sangatlah penting. Begitu pun kemampuan media menyedia analisi yang jeli. Bahkan, elite mungkin lebih mengandalkan organisasi berita yang sudah mapan karena menjamunya berita dan informasi bermutu rendah dalam sistem.
            Analisis di Twitter mungkin tak lebih baik dari pada monyet yang mengetik, kekuatan platform berbagai info yang tak diatur adalah kecepatan tanggapan, bukan wawasan atau kedalaman.
            Media utama juga harus mencari cara untuk mengintegrasikan semua suara dunia baru yang bisa mereka jangkau. Tugas itu menantang, tetapi penting. Idealnya, bisnis jurnalisme makin kurang ekstratif dan makin kolaboratif. Banyak jurnalis terhormat hari ini percaya bahwa merangkul penuh jurnalisme warga hanya akan merusak bidang jurnalisme. Kekhawatiran mereka memang beralasan.
E.    Jurnalisme dan Media Baru
            Jurnalisme menjadi pilar keempat demokrasi pada abad ke-18 dan 19. Ia menjadi bagian tak terpisah dari kemunculan suatu sistem sosial dan politik yang lebih demokratis di Eropa dan Amerika Utara. Sementara itu, jurnalisme cetak mulai hidup sebagai sebuah bisnis, bisnis menjual berita setelah ia berubah menjadi wahana, ideologi, opini dan politik. Menurut Jurgen Habermes (1989) dalam Transformasi Struktural Ruang Publik, terjadi berbagai pergeseran sejarah dalam jurnalisme, perdagangan berita yang dikembangkan dari sistem korespodensi pribadi dan untuk penerbit lama. Kemudian ia dikumpulkan dan diorganisir bernama berita untuk keuntungan sederhana.
            Perkembangan jurnalistik selanjutnya adalah ia sebagai perusahaan komersial yang berkembang sekitar pertengahan abad ke-19 di Eropa Barat. Ini dipicu oleh munculnya kebebasan sebagai salah satu hak konstitusional dan kemunculan iklan menjanjikan pengembalian investasi, pada sisi yang lainnya. Akibat dari pola ini menurut Habermas, per menjadi kurang partisan dan memungkinkan untuk berkonsterasi pada peluang bisnis. Habermas sambil mungutip Blicher melanjutkan, dalam keadaan ini kertas merupakan karakter suatu perusahaan yang menghasilkan ruang iklan sebagai komoditas yang dibuat berharga melalui bagian editorial. Dengan demikian, keberhasilan sebuah surat kabar dalam menjual iklan tergantung pada editorialnya dan jumlah dan demografi pembaca yang tertarik. Ini kata Habermas akan mengarah pada tranformasi struktural ranah publik, sekaligus dengan jurnalisme menjadi kuda Trojan dimana kepentingan pribadi menyerbu ruang publik.
             Bisnis surat kabar mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-20. Selain meraih keuntungan yang besar, koran pun mempengaruhi kebijakan publik dan memiliki suara dalam politik internasional. Tetapi pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, hal ini mulai berubah. Oplah munurun tajam dari tahun ke tahun. Pendapatan iklan turun juga. Pada saat bersama situs berita online melaporkan rekor jumlah pengunjung, dengan situs online. Itu tidak datang sebagai kejutan teori pembicaraan krisis yang mendalam dalam jurnalisme, krisis dimana media baru terlibat langsung.
Krisik Jurnalistik
            Tampaknya kata krisi dalam jurnalisme dianggap terlalu berlebihan. Ini setidaknya menurut Todd Gitlin (2009), meskipun dalam konteks tahap saat jurnalisme, ia berpendapat dalam kondisi seperti ini istilah krisis yang sangat tepat. Gitlin menujukkan kondisi krisis jurnalisme ini dengang mengidentifikasi lima indikator. Yaitu :
1.    Jatuhnya sirkulasi
2.    Jatuhnya pendapatan adver tising
3.    Difusi perhatian
4.    Krisis yang berwenang
5.    Ketidak mampuan atau keengganan jurnalisme mempertahankan struktur kekuasaan semua berkontribusi untuk membawa krisis yang mendalam jurnalisme
     Gitlin menyebutkan lima krisis jurnalisme di atas berkaitan dengan waktu, uang, otonomi, dan perubahan budaya.





   F.       JURNALISME DAN PENCARIAN CORE MINING

            Komunikasi mengenal dua madzhab. Yakni,aliran penyampaian pesan (madzhab transmisi) dan aliran pertukaran makna(madzhab semiotika). Aliran penyampaian pesan adalah yang tertua. Makna komunikasi selalu diidentikan dengan penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan. Elemen komunikasi laian pada madzhab penyampaian pesan ini adalah media,noise,feedback,dan sebagainya

            Ungkapan Harold Laswell who,says what, in which channel,to whom,with what effect(siapa mengatakan apa,melalui saluran kepada apa dengan efek apa) adalah menandaskan tentang aliran perpindahan pesan ini

   G.     JURNALISME DAN PERTUKARAN MAKNA

            Berita adalah tulisan,tayangan,ataiu siaran tentang fakta dari satu peristiwa atau kejadian yang di muat atau disiarkan oleh media massa dengan menggunakan kontruksi 5W+1H (what,why,who,where,dan when serta how). Jadi jika ada fakta dari kejadian yang tidak di sebarkan melalui media massa,ia bukan berita. Secara sederhana berita adalah teminologi mutlak milik media massa (majalah,tabloid,surat kabar,televisi,situs dan sebagainya). Kontruksi tulisan berita konvensional adalah paramida terbalik. Artinya,dalam berita model ini kepala berita menjadi tempat fakta terpenting versi redaksi tentunya.

   H.      JURNALISME INTERPRETATIF

            Para petinggi surat kabar kemudian mencari model alternatif penulisan untuk menyiasati perubahan pola berita ini sekaligus menyelamatkan jurnalisme surat kabar. Sebab kalau bersaing dalam kecepatan, sudah tentu kalah dengan online, meskipun pernah ada yang menyiasati dia kali terbit pagi dan siang. Namun dari segi biaya operasional sanagn besar dan tidak menguntungkan.

            Dari pemikiran itulah muncul jurnalisme interpretatif. Sebuah model jurnalistik yang berbasis penafsiran terhadap fakta yang terdapat dalam sebuah peristiwa,suatu pengembangan dari sebuah peristiwa. Dalam jurnalisme model ini,Fakta atau peristiwa hanya sebagai cantolan berita.

   I.     JURNALISME,AGAMA,DAN   PERTANGUNGJAWABAN

            Indonesia bukan negara sekuler. Di negri ini tidak ada agama yang di akui atau dinafikan. Semua orang boleh hidup di negri ini dengan ketentuan mjutlak mengakui pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional. Fungsi agama di indonesia berbeda dengan negara lain. Pengaruh agama yang kuat dalam struktur masyarakat menyebabkan peran agama di wilayah publik sulit di hindari. Agama bisa menjadi sumber pemecahan,kekerasan,dan eksklusivisme. Karena itu peran agama publik di rumuskan sesuai semangat dari para pendiri bangsa ini.

            Aagma hanya di pahami seperangkat konsep yang mengawang-awang. Agama hanya sebagai perangkat moral sempit yang tidak ada hubungannya dengan kekuasaan tiranik,kemiskinan kultural dan struktural,ketimpangan sosial,ketidak adilan ekonomi dan ketertinggalnya budaya. Dengan pengertian itu agama menjadi kering makna, tunasional,dan hanya urusan akhirat. Dalam konteks itu,terjadi deviasi makna agama atau kesalahan memahami acara secara utuh dan sistematik.