Rangkuman Buku
Keruntuhan Jurnalisme
1.
Nama : Rifky
Fajriansyah
2.
NIM : 1571506953
3.
Prodi : Broadcast
Jurnalism
4.
Kelas : YB
5.
MK : ICT
Fakultas Ilmu
Komunikasi
Universitas
Budi Luhur
2015
TUJUAN
Buku ini di tulis untuk
menceritakan kembali bahwa ada rasa kecewa pada jurnalisme,ada juga rasa
khawatir dari penulis terhadap dunia jurnalisme. Pada isi buku tersebut adanya
tentang amplop besar dan amplop kecil itu bisa di sebut bahwa jurnalisme yang
tidak memiliki dunia independen. Selain itu tujuan untuk mempubliskasikan buku
keruntuhan jurnalisme ini di karenakan mahasiswa universitas budi luhur di
berikan tugas untuk meresensi buku yang berjudul Keruntuhan Jurnalisme ini oleh
dosen kami Pak Dudi Iskandar.
Bab 1
INDIKATOR
KERUNTUHAN JURNALISME
A. Jurnalisme Bias
Tak Kritis
Menurut teori jurnalistik,
unik dan memiliki keluarbiasaan merupakan dua poin dari new values (nilai
berita). Dua nilai berita itu ada pada diri Jokowi. Satu nilai berita lain yang
tidak sengaja dimiliki Jokowi proximity (kedekatan). Liputan media tentang
Jokowi meningkat drastis, dramatis ketika ia menjadi Gubernur DKI Jakarta. Hal
ini disebabkan semua media mainstream ada di ibu Kota. Makanya pasti selalu
bersentuhan, bersinggung dengan apapun tentang Jokowi.
Karena memiliki banyak nilai berita, Jokowi
secara pribadai, Guberbur DKI Jakarta ataupun sebagai kader partai, selalu di
kejar media. Ia pun memperoleh citra dan pencitraan positif selama 24 jam
secara gratis! Sejak menjabat gubernur, tahun lalu, nyaris tidak ada berita
miring/negatif tentang jokowi. Bahkan, ketika banjir besar melanda ibu Kota,
sampai masuk ke Istana Negara, media memakluminya. Mereka menyebutnya siapapun
gubernurnya, Jakarta pasti banjir. Bandingkan dengan sikap media terhadap
gubernur sebelum Jokowi yang terkenal dengan jargon “Serahkan pada Ahlinya.”
Dalam konteks itulah, sesungguhnya media sudah dimabuk kekuasaan. Ketika
Jokowi berkuasa, ia sebagai idola. Begitu Jokowi menjadi musuh pemilik media,
Jokowi pun digebukin dengan sedemikian rupa. Bias dalam jurnalisme berarti ada
kepentingan yang menjadi latar belakang peliputan seseorang, termasuk Jokowi,
selain kepentingan jurnalisme itu sendiri.
B. Junalisme dan ‘Amplop Besar’
Pada dua
milist institusi wartawan yang berbeda tertera ‘Undangan Mengambil THR
(Tunjangan Hari Raya) di salah satu instasi pemerintahan tentu saja ada yang
tertawa senang, ada yang mencibir dengan geram, ada yang mengkritik. Harus
diakui, dinegeri ini pengusaha media bukanlah berasal dari wartawan yang
idealis, meski tidak menutup beberapa media untuk perjuangan walaupun
berdarah-darah. Para pebisnis akan melihat informasi tak lebih dari suatu
komoditi yang diperjual belikan dengan mengabaikan makna sosial, budaya, atau
politik dari informasi tersebut.
Jika diteliti
secara cermat ada dua ancaman terhadap demokrasi yang dipicu media. Yakni, pada
isi berita dan struktur industri media yang dikuasai konglomerasi. Kepemilikan
media sangat berpengaruh dengan cara media mengungkap isu. Kuatnya konglomerasi
media akan mengancam demokrasi dan sistem politik di Indonesia. Banyak contoh
yang bisa diapungkan bahwa kepentingan dan ideologi pemilik media banyak
berpengaruh dalam mengupas fenomena dan realitas sosial kita.
C. Junalisme dan Budaya Copy Paste
Kehadiran
teknologi komunikasi dan informasi serta teknologi transportasi menyebabkan
percepatan dan kecepatan dalam segala hal, termasuk dalam dunia jurnalisme,
khususnya berkaitan dengan produksi berita di berbagai media. Komunikasi dan
informasi berkembang ke arah penggelembungga, yang menciptakan masyarakat
kegemukan, kegemukan informasi, komunikasi, tontonan, berita, dan data. Yang
terpenting dari berita kini adalah kuantitas sebagai akibat dari jeratan
kapitalisme global yang berinsikan tiga ideologi secara bersamaan,
materialisme-pragmatisme-hedonisme.
Dalam konteks
jurnalisme, misalnya, percepataan dan kecepataan produksi berita telah mengubah
alur berita dan kinerja bagi kru redaksi dan hasil berita bagi masyarakat.
Berita
yang harus berangkat dari kejadian atau peristiwa yang semula baru bisa
dinikmati esok harinya melalui surat kabar, kini berubah dramatis dan drastis.
Semua media, khususnya, online berlomba menyajikan yang terbaru, mereka mengejar
kesegeraan. Tidak peduli salah. Toh, nanti bisa diganti, dicabut, dan tentu
saja bisa diralat.
Munculnya
internet sebagai bagian dari teknologi komunikasi dan informasi menyebabkan
kejadian tidak langsung menjadi wacana di media sosisal. Dari sinilah muncul di
istilah citizen journalism.
Di sisi lain,
kamajuan teknologi komunikasi juga mengakibatkan wartawan menjadi pemalas.
Untuk apa memverifikasi fakta, mengejar narasumber yang kualifaid, dan
mendatangi tempat kejadian perkara jika semua persyaratan kejadian menjadi
sebuah berita bisa diselesaikan melalui teknologi komunikasi dan informasi
seperti telepon, pesan pendek, blackberry messager,whatapp,dll. Dalam kasus
berita kriminal, tidak penting mencari saksi mata sebagai sumber utama berita
selama ada keterangan dari kepolisian. Makanya sangat lucu ketika suatu waktu
ada wartawan yang melihat pembunuhan harus konfirmasi ke polisi yang tidak
mengetahui kejadian.
D. Jurnalisme Pembuat Heboh
Perhaps what the media thought was big
national news was not what was really important to the stock market (Robert J. Shiller).
Konstruksi Sosial Media Massa
Salah satu
pembentuk konstruksi realitas di dunia modern adalah media massa. Seraya
melontarkan kritik terhadap Berger dan Luckmaan, Burhan Bugin menyebut media
massa, termasuk surat kabar, menjadi variable yang sangat substantif dalam
proses eksternalisasi, objektivikasi, dan internalisasi. Karena pengaruh media
massa itulah ia memunculkan teori ini terletak pada sirkulasi informasi yang
cepat dan luas yang disebarkan oleh media massa sehingga konstruksi sosial
berlangsung sangat cepat dan sebarannya merata. Realitas yang dibangun media
massa tersebut membentuk opini publik, massa cenderung apriori,dan opini massa
cenderung sinis.
Menurut Burhan
Bugin, ada empat tahapan kelahiran konstruksi sosial media massa. Yaitu,
penyiapan materi konstruksi, sebaran konstruksi, pembentukan konstruksi
realitas, dan konfirmasi. Dari empat tahapan itu melahirkan dua model
konstruksi realitas media massa, yaitu model analog dan refleksi realitas. Model
pertama terjadi dan dibangun secara rasional dan dramatis terhadap suatu
kejadian. Dari sini masyarakat mendapat realitas yang dikonstuksi media massa
dari sebuah peristiwa yang terjadi dalam masyarakat.
Konstruksi Berita
Sebuah berita
di suatu media, khususnya, surat kabar bukan hanya rangkaian fakta yang
tersusun menjadi sebuah kalimat dan paragraf. Ia juga merupakan representasi
dari pikiran dan sikap penulis dan asisten redaktur serta redaktur. Minimal
segala latar belakang budaya, pergaulan, dan pendidikan wartawan sangat
memengaruhi bagai mana fakta dikonstruksi dalam sebuah berita. Fakta yang hanya
ditulis apa adanya akan kering gaya dan tidak nyaman dibaca. Gaya penyajian ini
pula memuat berbagai warna. Dengan demikian mulai dari mencari, menemukan, dan
mengkonstruksi fakta, wartawan sudah dikonstruksi dengan berbagai hal yang
tidak netral dan independen.
Dengan kata
lain tidak ada teks media atau berita yang sepenuhnya objektif atau hanya
kumpulan fakta yang dijadikan data untuk sebuah tulisan. Selalu ada campur
tangan pikiran dan sikap penulis serta editor atau bahkan kebijaksanaan redaksi
surat kabar tersebut. Institusi dan pemilik surat kabar adalah pemilik
kepentingan mediahari ini.
Ada tiga
pertimbangan sebuah peristiwa menjadi berita disurat kabar, yaitu ideologis,
politis, dan bisnis. Pertimbangan ideologis terjadi karena faktor pemilik atau
nilai-nilai yang dihayatinya. Pertimbangan politis berangkat dari kenyataan
bahwa pers tidak terlepas dari kehidupan politik. Apalagi pers adalah disebut
sebagai pilar keempat demokrasi. Sedangkan kepentingan bisnis berkaitan dengan
pemasukan dari iklan. Ketiga pertimbangan itu juga berpengaruh pada sudut
pandang berita.
Era Baru Konstruksi Media
Kemunculan
media akses yang berbasis internet kian mempertajam efek media. Internet
memiliki kemampuan yang belum ada sebelmnya untuk memperkembangkan bentuk baru
relasi sosial. Untuk mendeskripsinya adalah melalui kebaruan interaktivitasnya.
Karena itu interner menjadi sumber individu bebas dan kelompok kecil, dalam
dunia egalitarian yang di dalamnya individu tidak dirintangi oleh batasan
bangsa, kelas, gender, atau properti. Setelah media cetak dan elektronik
menghegemoni masyarakat, dalam beberapa dekade terakhir, internet menjadi biang
arus informasi.
Selain sebagai
media akses, internet juga kerap disandingkan sebagai konvergensi media dan
media internal. Kini, hampir semua media cetak dan elektronik membarenginya
dengan bentuk berita online, e-paper dan live streaming. Sebelumnya kita
mendengar istilah tele-health, tele-banking, tele-conference, dan tele-tele
yang lainnya sepagai implikasi dari revolusi komunikasi.
E. Jurnalisme Tanpa Konfirmasi
Dalam konteks
inilah sesungguhnya teori kekuasaan dan pengetahuan dari Michel Foucault
menemukan kebenarannya. Menurut Foucault
power produce knowledge, yang didefinisikan sebagai pihak yang
berkuasalah yang membuat pengetahuan. Adanya hubungan antara kekuasaan dan
pengetahuan secara langsung menjelaskan representasi dari hubungan
‘power-knowledge’. Knowledge is power mengontrol tatanan sosial politik. Di
pihak yang berseberangan adalah power is knowledge yang bermakna kekuasaan
menumbuhkan pengetahuan.
Berita Tanpa Verifikasi
Setiap kali
Detasemen Khusus 88 Mabes Polri menangkap orang yang diduga teroris,media
melalui proses jurnalistik serta merta menulisnyademikian. Berbekal keterangan
sepihak dari kepolisian dalam konferensi pers, media manut saja seperti kerbau
di cocok hidungnya. Bahkan, yang paling menggelikan ada televisi menyiarkan
secara langsung penggerebekan teroris. Tanpa verifikasi fakta.
Verifikasi
fakta terbagi menjadi lima item indikator dalam verifikasi fakta. Yaitu :
1. Wartawan jangan menambah atau mengarang apa pun.
2. Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun
pendengar, bersikaplah setransparan.
3. Sejujur mungkin tentang metode dan motivasi.
4. Bersandarlah terutama pada reportase sendiri.
5. Bersikaplah rendah hati.
Filter Konseptual
Menurut teori
ini, manusia bisa menyaring informasi yang diterima yang disodorkan oleh media.
Pesan yang diberikan media tidak serta merta memengaruhi sikap dan perilaku
khalayaknya. Sebab individu itu memiliki filter konseptual atau daya tangkal
untuk menyaring informasi tersebut.
Dengan
memiliki filter konseptual, masyarakat dalam istilah Raymond Bauer menjadi
khalayaknya kepala batu. Teori ini menyatakan khalayaknya adalah aktif dan
sangat berdaya. Mereka tidak adalah kelompok masyarakat yang tidak terpengaruh
media, mereka berkepala batu. Dengan dua konsep komunikasi di atas manunjukan
media memang berpengaruh tersebut disaring, diseleksi, dan diterima atau
ditolak oleh filter konseptual.
Media
seharusnya menurut Kovach dan Rosentiel berpihak pada warga bukan negara atau
kekuasaan. Namun dalam konteks berita terorisme, media melakukan sebaliknya.
Hanya dengan inilah media akan menemukan dan mengemukakan kebenaran tentang
terorisme. Sebab keberpihakan pada kebenaran merupakan elemen jurnalistik utama
dari sembilan elemen milik Kovach dan Rosentiel.
F. Jurnalisme, Adakan Etika?
Menurut pakar
komunikasi Ibnu Hamad, ada tiga strategi yang digunakan media untuk membuat
wacana. Yaitu, signing, framing, dan priming. Signing adalah penggunaan
tanda-tanda bahasa, baik verbal maupun non verbal. Framing adalah pemilihan
wacana berdasarkan pemihakan dalam berbagai aspek wacana. Sedangkan priming
berati mengatur ruang atau waktu untuk mempublikasikan wacana di hadapan
khalayak.
Secara
filosofis, jurnalisme harus tetap berpijak pada prinsip kebenaran,
independensi, check and balance, cover all side, verifikasi fakta, dan
keberpihakan pada yang lemah. Etika jurnalisme berfungsi untuk menjamin media
memproduksi jurnalisme yang berkualitas dan publik pun mendapat informasi yang
sehat dan mencerahkan.
Bab 2
PENYEBAB
KERUNTUHAN JURNALISME
A. Postmodernisme
Dalam setiap
pergantian era atau narasi kehidupan manusia selalu menimbulkan dan ditandai
dengan kotroversi. Jika mengikuti tiga fase kehidupan manusia versi August
Comte, peralihan zaman dari mistis ke metafisis di guncang oleh munculnya
agama. Agama ini yang mengantikan era mistis. Kasus penyaliban Jesus dan
permusuhan Nabi Muhammad SAW adalah contoh bagaimana kemunculan zaman baru
selalu ditentang kelompok pro-status quo. Peralihan ke zaman positiv dari metafisis
pun mengalami hal yang serupa. Galileo Galilei adalah korban kaum agamawan.
Kini tahapan positivis menjelang ajal. Era postmodernisme siap mengambil alih
pemegang tampuk peradaban manusia selanjutnya.
Gejala Postmodernisme
Postmodernisme
merupakan gerakan kontemporer. Gerakan ini kuat dan modis. Namun, tidak jelas
apa gerakan ini. Tidak hanya sulit mempraktikannya, bahkan sulit juga
menolaknya. Oleh sebab itu, postmodernisme yang di anggap antitesis modernisme
bukan saja proyeksi culture studies tetapi juga keniscayaan yang selalu
mengelilingi dunia kita.
Dari sudut
istilah postmodernisme mengandung masalah. Ia menyimpan ambiguitas dan ketidak
jelasan sosok. Salah satunya penggunaan imbuhan “post” dan “isme” bila “post”
digunakan “sesudah” atau “ melepaskan diri” pendekatan tersebut terlalu
diametral, hitam-putih. Dari sudut itu sebenarnya postmodernisme bukan lari
dari paradigma modern, tetapi modern yang radikal. Mendefinisikan
postmodernisme hanyalah mengundang munculnya masalah-masalah. Mendefinisikan
postmodernisme, sama artinya dengan mendefinisikan apa yang bukan
postmodernisme suatu kontradiksi logis.
Kata “post”
pada postmodernisme sering dipahami sebagai “pasca””sesudah” dalam pengertian
urusan waktu, suatu kemajuan melampaui modernisme. Pemahaman tersebut salah
kaprah karena postmodernisme justru sangat “anti” terhadap ide-ide kemajuan,
emansipasi, dan linieritas sejarah.
Yang paling
mengagetkan adalah postmodernisme tidak bisa didefinisikan atau
dikonseptualisasikan karena bertentangan dengan sesuatu yang sangat diharamkan
oleh postmodernisme, yakni kesatuan.
Ajaran Pokok
Friksi kultural,
kata Ahmed, di dunia kita adalah persoalan sentral dalam memahami ajaran
postmodernisme. Karena persoalan, termasuk pertarungan, budaya inilah
postmodernisme tidak terpisah dari studi tentang kebudayaan sebagai efek dari
media massa. Seperti di kutip Tony Thwaites dkk, melihat estetika
postmodernisme merayakan perbedaan, kesementaraan, tontonan besar, fashion, dan
komodifikasi bentuk-bentuk kultural.
Gagasan
postmodernisme adalah semua yang ada adalah sebuah teks, bahwa bahan pokok
teks, apapun adalah makna-makna yang perlu diurai atau “didekonstruksi”
pandangan yang objektif perlu di
curigai, dan hermenetika adalah nasibnya. Apapun sesuatu itu ditentukan oleh
makna yang ada dalamnya. Adalah makna yang membuat sesuatu itu berubah dari
sebuah keberadaan yang tidak jelas menjadi objek yang bisa di kenali. Namun
harus diingat makna yang memberikan eksistensi juga menentukan status dan
dengan demikian merupakan alat dominasi sesuatu yang dikritik postmodernisme.
Secara
sederhana ajaran postmodernisme terdiri dari pertama menolak universalitas.
Menurut kaum postmodernisme tidak ada konsep yang bisa dipakai untuk semua umat
manusia . Yang disodorkan adalah lokalize dan pluralistik. Trend ini juga
merambah yang berkaitan dengan kenyakinan atau agama.
Karakteristik
Mengutip
Lyotard Ahmed. Mengatakan cie=ri-ciri postmodernisme adalah memilki keraguan
terhadap metanaratif. Cara yang paling sederhana mengenal postmodernisme adalah
mengetahui ciri-cirinya.
Dalam
pengamatan Ahmed mengatakan ciri khas “aliran yang membingungkan tersebut”, itu
adalah, pertama, memahami postmodernisme berarti mengansumsikan pertanyaan
tentang hilangnya kepercayaan terhadap proyek modernitas.
Kedua,
postmodernisme bersamaan dengan era media, dalam banyak cara yang bersifat
mendasar, media adalah dinamika sentral.
Ketiga, karena
sebagian penduduk menepati wilayah perkotaan, dan sebagian besar lagi
dipengaruhi ide-ide yang berkembang dalam wilayah ini, metropolis menjadi
bagian sentral postmodernisme.
Tokoh
1. Jean Francois Lyotard (10 Agustus 1924 – 21 April
1998)
2. Jacques Derrida (15 Juli 1930 – 9 Oktober 2004)
3. Michael Foucault (15 Oktober 1926 – 25 Juni 1984)
4. Jean Baudrillard (27 Juli 1929 – 6 Maret 2007)
B. Cultural Studies
Mengerikan.
Begitulah kesan pertama membaca tentang teori komunikasi culltural studies.
Rumit, kompleks, dan ibarat harus mengurai benang kusut. Tidak tahu dari mana
mulainya. Membutuhkan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas untuk
menyusun all about cultural studies dalam sebuah ranah yang mudah di pahami.
Banyak kesulitan dalam memverifikasi cultural studies, mulai dari istilah
budaya, ideologi, hingga wilayah kajian yang sangat luas. Hal ini sangat
berbeda jika membedah satu kajian tertentu dengan objek yang sepesifik dan
jelas.
Kegalauan Sematik
Awalnya
culture berarti pengolahan tanah. Perawatan dan pengembangan hewn ternak. Ia
kemudian berkembang menjadi gagasan tentang keunikan adat istiadat suatu
masyarakat. Sekitar 1920, ia baru masuk ke ranah antropologi melalui pikiran
Frans Boas. Kini konsep kebudayaan melintas ke wilayah politik, sastra,
ekologi, kajian perdamaian, dan komunikasi. Ia menggumpal dalam sosok interdisipliner
bernama cultural studies.
Tokoh awal
cultural studies, Raymond Williams mendefinisikan budaya melalui pendekatan
universal yang mengacu pada makna bersama yang terpusat pada aktivitas
sehari-hari, nilai, material, simbolis, dan norma. Kebudayaan adalah pengalaman
dalam hidup sehari-hari yang diwarnai beragam teks, praktik, dan makna.
Kebudayaan
kerap disamakan atau bahkan sulit dipisahkan dari istilah peradaban. Dalam
bahasa Arab, misalnya, kebudayaan dan peradaban merupakan terjemahan sama dari
kata tamaddun atau madinah. Ada juga yang menyamakan peradaban dengan hadharah.
Sejarah
Culturan
studies pertama kali muncul di Brimingham, Inggris melalui Birmingham Center
for Contemporary Cultural Studies sekitar 1950an. Perintisnya adalah Richard
Hoggart dan Raymond Williams. Namun, cultural studies menemukan kejayaannya di
tangan Stuart Hall. Sebagai perbandingan tentang sejarah kelahiran cultural
studies lain dari Richard West-Lynn H. Turner.
Salah satu
pemicu munculnya cultural studies adalah kegagalan teori Karl Marx. Bahwa akan
muncul revolusi yang dilakukan kaum proletar. Dari revolusi Marx
mengindealisasikan muncul suatu masyarakat tanpa kelas, di satu sisi, dan
dominasi ekonomi kaum kapitalis akan berkurang, pada sisi lainnya. Namun,
perkiraan Marx tersebut meleset.
Bab 3
KEMUNCULAN
JURNALISME BARU
A. Jurnalisme dan Citizen Journalism
Sekali lagi
kemajuan komunikasi dan informasi memberikan kemajuan dalam salah satu aspek
kehidupan manusia, khususnya dalam berbagai informasi sesama anak manusia.
Melalui internet, kini, semua orang bisa menjadi wartawan. Profesi yang selama
ini milik merak yang mencari berita untuk kepentingan media. Ia bergelar banyak
nama. Yang paling popuker adalah istilah citizen jurnalism. Terminologi yang
masih banyak pertanyaan, debatable.
Kooptasi Media
Komunikator
pada komunikasi massa tidak mau kehilangan kapitalis, pengaruh, dan penghasilan
dalam mentransfer pesan komunikasi. Dengan kekuatan finansial, nama besar, dan
organisasi yang profesional, mereka dengan cerdas menyediakan ruang dan sarana
bagi masyarakat untuk berbagi informasi sebagai tandingan dari jurnalisme
warga. Maka muncul kompasina, citizen journalism republika, blogtempo, forum
detik dan sebagainya.
Namun, kalau
masyarakat cerdas, sekali wahana yang disediakan institusi media tetap memiliki
ideologi, kepentingan, dan bisnis. Ini yang tidak disadari oleh masyarakat
pengguna forum citizen journalism yang dimiliki media tradisional.
Dengan demikian,
sesungguh jurnalisme warga sebagai alternasi sekaligus peringatanbagi media
tradisional yang sok dengan beragam berita yang sudah dikonstruksinya, dibumbui
dengan jurnalisme warga adalah pioneer yang meruntuhkan jurnalisme tradisional
yang belagu dan penuh trik.
B. Jurnalisme dan ideologi
Ideologi sebagai cara memahami dan menerima alam
semesta, dan manusia. Cara memahami dan mengevaluasi segala benda dan gagasan
yang membentuk lingkaran sosial. Memiliki dua hal. Yakni, ideologi secara
inheren bersifat sosial dan tidak hanya digunakan sebagai fungsi koordinatif
dan kohesif, tetapi juga membentuk identitas kelompok sosial tersebut yang
membedakan dengan kelompok lain.
Mengikuti
penggunaan tersebut, ideologi memiliki karakteristik yang khas yakni adanya
keyakinan, gagasan, kelompok tertentu, pandangan menyeluruh, politik, dan
bersifat publik. Karena itulah ideologi kerap disandarkan dengan kekuasaan dan
budaya politik tertentu. Misalnya, China dengan ideologi komunis dan ideoligi
liberal di belahan dunia Barat. Rezim komunis China mempertahankan kekuasaan
dengan memberangus kelompok yang tidak menganut ideologi komunis yang semua
urusan ditentukan oleh negara. Sebaliknya, kelompok yang tidak mengikuti ajaran
liberalisme dikecam oleh negara yang menganut ideologi liberalisme.
Untuk negeri
ini, ideologi Pancasila dan ideologi pembangunan digunakan rezim Orde Baru
untuk melanggengkan kekuasaannya. Selama 32 tahun ideologi Pancasila menjadi
tameng untuk melawan kelompok yang tidak setuju dengan sistem dan kebijakan
Soeharto. Begitu juga dengan kata pembangunan. Ia menjadi mantra suci yang
tidak boleh di ganggu gugat. Golongan yang mengkritik penerapan Pancasila oleh
pemerintah dan sistem pembangunan dikatagorikan subversif. Hal ini pula diterapkan
dalam tek berita media massa waktu itu. Melawan rezim berarti media tersebut
siap diberangus atau dicabut SIUP-nya.
Deskripsi di
muka menemukan fakta bahwa ideologi memiliki dua sisi. Dalam perspektif teoritis, ideologi sangat ideal-normatif. Ia
mengusung nilai dan kebaikan dalam suatu kelompok masyarakat, budaya politik,
atau negara tertentu. Namun, pada sisi praktis, ideologi menyimpan wajah seram
dan kejam. Atas nama dan untuk menindas, memberangus, dan mengorbankan nyawa
pemilik ideologi lain. Jika pengetahuan, dan ilmu pengetahuan membeku menjadi
delusi atau kesadaran palsu sehingga menghalangi manusia berbuat kebaikan,
keduanya menjadi ideologi.
Dalam kajian
semiotika, ideologi merupakan salah satu yang menjadi titik perhatiannya.
Ideologi dalam perspektif semiotika bukan hanya ideologi ternama, tetapi juga
ideologi yang berarti titik tolak orang, termasuk wartawan dalam menyampaikan
dan menginterpretasikan pesan. Oleh sebab itu, setiap teks berita atau media
dipastikan berpotensi mengandung bias media atau bias berita. Kondisi ini
sangat sulit dihindari kalau bukan merupakan sesuatu yang given. Sebab teks
berita tidak berada dalam ruang hampa. Ia selalu berada dalam situasi dan
keberpihakan pada pihak tertentu pula.
C. Jurnalis dan Konvergensi Media
Konvergensi
adalah perubahan teknologi, industri, budaya, dan sosial dalam lingkaran media
termasuk di dalam budaya kita. Beberapa gagasan mendasar dari konvergensi
antara lain konten media mengalir ke beberapa platform media yang berbeda.
Kerja sama di antara beberapa platform industri media, pencarian struktur baru
untuk pembiayaan media antara media lama dan media baru serta perubahan perilaku
khalayaknya media yang ke mana saja untuk mencari berbagai hiburan yang mereka
inginkan.
Jurnalistik Interpretatif
Konvergensi
bukan hanya penyatuan konten sebuah berita bisa muncul di berbagai media yang
berada dalam satu perusahaan, tetapi juga penyatuan dalam satu induk perusahaan
media.
Dengan
konvergensi media, berita yang dahulu disebut mengabarkan peristiwa yang sudah
terjadi, kini definisinya tersebut berubah menjadi peristiwa yang sedang
terjadi. Bahkan, jika kita meggunakan paradigma jurnalisme interpretatif,
berita bisa juga peristiwa yang akan terjadi. Berita interpretatif adalah
sebuah pola berita dimana peristiwa hanya sebagai contoh berita. Ia
diinterpretasikan dan ditafsirkan oleh pakar sehingga menghasilkan berita
prediksi.
Model jurnalistik interpretatif ini banyak
dikembangkan di media cetak, surat kabar, khususnya. Strategi interpretasi ini
merupakan cara untuk berbeda dengan berita online yang terlebih dahulu hadir.
Artinya, beritanya sama tetapi interpretasinya berbeda. Meskipun, model
jurnalistik ini pun sudah mulai dijalankan oleh berbagai situ berita.
D. Jurnalisme dan Krisis Berita
Kita
mendapat informasi dan sumber yang di percayai sangat berpengaruh pada
identitas masa depan. Yang tersisa dari berita dala era internet adalah medan
yang sudah dikuasai dengan dan pertempuran menangguk untung dan kompetisi isi
berita yang akan terus berlangsung pada masa mendatang. Dengan teknologi yang
ada saat ini yang merambah semua industri, termasuk media, seperti apa bentuk
media kita saat ini.
Yang pasti media-media besar akan makin
ketinggalan dalam melaporkan berita dari seluruh dunia. Media tak bisa bergerak
cukup cepat dalam era yang serba terhubung betapa pun berbakatnya jurnalis dan
wartawan lokal mereka serta segudang nara sumber yang mereka punyai. Justru,
kabar terbaru dunia aka terus menerus datang dari media sosial, jejaring
terbuka yang memudahkan warga berbagi informasi secara langsung, luas, dan
dalam paket mudah di akses. Jika semua orang di dunia ini punya atau bisa
mengakses telepon pintar mereka yang tesambung ke internet realitas yang tak
begitu jauh berita baru yang menghebohkan hanyalah masalah nasib mujur dan
kesempatan.
Tugas kewartawanan akan tersebar lebih
luas dibanding hari ini, sehingga cakupan dan ulasan mungkin berkembang tetapi
mutunya berkurang di level internet. Pesan utama media menjadi petunjuk,
pemeliharaan, dan pemeriksaan, semacam saringan terpercaya yang memilah-milah
semua data dan menyoroti mana yang layak dan tidak layak dibaca, dipahami,
serta dipercayai. Bagi mereka yang percaya pada media mapan, validasi sangatlah
penting. Begitu pun kemampuan media menyedia analisi yang jeli. Bahkan, elite
mungkin lebih mengandalkan organisasi berita yang sudah mapan karena menjamunya
berita dan informasi bermutu rendah dalam sistem.
Analisis
di Twitter mungkin tak lebih baik dari pada monyet yang mengetik, kekuatan
platform berbagai info yang tak diatur adalah kecepatan tanggapan, bukan
wawasan atau kedalaman.
Media utama juga harus mencari cara untuk
mengintegrasikan semua suara dunia baru yang bisa mereka jangkau. Tugas itu
menantang, tetapi penting. Idealnya, bisnis jurnalisme makin kurang ekstratif
dan makin kolaboratif. Banyak jurnalis terhormat hari ini percaya bahwa
merangkul penuh jurnalisme warga hanya akan merusak bidang jurnalisme.
Kekhawatiran mereka memang beralasan.
E. Jurnalisme dan Media Baru
Jurnalisme menjadi pilar keempat
demokrasi pada abad ke-18 dan 19. Ia menjadi bagian tak terpisah dari
kemunculan suatu sistem sosial dan politik yang lebih demokratis di Eropa dan
Amerika Utara. Sementara itu, jurnalisme cetak mulai hidup sebagai sebuah
bisnis, bisnis menjual berita setelah ia berubah menjadi wahana, ideologi,
opini dan politik. Menurut Jurgen Habermes (1989) dalam Transformasi Struktural
Ruang Publik, terjadi berbagai pergeseran sejarah dalam jurnalisme, perdagangan
berita yang dikembangkan dari sistem korespodensi pribadi dan untuk penerbit
lama. Kemudian ia dikumpulkan dan diorganisir bernama berita untuk keuntungan
sederhana.
Perkembangan jurnalistik selanjutnya
adalah ia sebagai perusahaan komersial yang berkembang sekitar pertengahan abad
ke-19 di Eropa Barat. Ini dipicu oleh munculnya kebebasan sebagai salah satu
hak konstitusional dan kemunculan iklan menjanjikan pengembalian investasi,
pada sisi yang lainnya. Akibat dari pola ini menurut Habermas, per menjadi
kurang partisan dan memungkinkan untuk berkonsterasi pada peluang bisnis.
Habermas sambil mungutip Blicher melanjutkan, dalam keadaan ini kertas
merupakan karakter suatu perusahaan yang menghasilkan ruang iklan sebagai
komoditas yang dibuat berharga melalui bagian editorial. Dengan demikian,
keberhasilan sebuah surat kabar dalam menjual iklan tergantung pada
editorialnya dan jumlah dan demografi pembaca yang tertarik. Ini kata Habermas
akan mengarah pada tranformasi struktural ranah publik, sekaligus dengan
jurnalisme menjadi kuda Trojan dimana kepentingan pribadi menyerbu ruang
publik.
Bisnis surat kabar mencapai puncak kejayaannya
pada abad ke-20. Selain meraih keuntungan yang besar, koran pun mempengaruhi
kebijakan publik dan memiliki suara dalam politik internasional. Tetapi pada
akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, hal ini mulai berubah. Oplah munurun
tajam dari tahun ke tahun. Pendapatan iklan turun juga. Pada saat bersama situs
berita online melaporkan rekor jumlah pengunjung, dengan situs online. Itu
tidak datang sebagai kejutan teori pembicaraan krisis yang mendalam dalam
jurnalisme, krisis dimana media baru terlibat langsung.
Krisik Jurnalistik
Tampaknya kata krisi dalam jurnalisme
dianggap terlalu berlebihan. Ini setidaknya menurut Todd Gitlin (2009),
meskipun dalam konteks tahap saat jurnalisme, ia berpendapat dalam kondisi
seperti ini istilah krisis yang sangat tepat. Gitlin menujukkan kondisi krisis
jurnalisme ini dengang mengidentifikasi lima indikator. Yaitu :
1. Jatuhnya sirkulasi
2. Jatuhnya pendapatan adver tising
3. Difusi perhatian
4. Krisis yang berwenang
5. Ketidak mampuan atau keengganan jurnalisme mempertahankan
struktur kekuasaan semua berkontribusi untuk membawa krisis yang mendalam
jurnalisme
Gitlin
menyebutkan lima krisis jurnalisme di atas berkaitan dengan waktu, uang, otonomi,
dan perubahan budaya.
F. JURNALISME DAN PENCARIAN CORE MINING
Komunikasi
mengenal dua madzhab. Yakni,aliran penyampaian pesan (madzhab transmisi) dan
aliran pertukaran makna(madzhab semiotika). Aliran penyampaian pesan adalah
yang tertua. Makna komunikasi selalu diidentikan dengan penyampaian pesan dari
komunikator ke komunikan. Elemen komunikasi laian pada madzhab penyampaian
pesan ini adalah media,noise,feedback,dan sebagainya
Ungkapan
Harold Laswell who,says what, in which channel,to whom,with what effect(siapa
mengatakan apa,melalui saluran kepada apa dengan efek apa) adalah menandaskan
tentang aliran perpindahan pesan ini
G. JURNALISME DAN PERTUKARAN MAKNA
Berita
adalah tulisan,tayangan,ataiu siaran tentang fakta dari satu peristiwa atau
kejadian yang di muat atau disiarkan oleh media massa dengan menggunakan
kontruksi 5W+1H (what,why,who,where,dan when serta how). Jadi jika ada
fakta dari kejadian yang tidak di sebarkan melalui media massa,ia bukan berita.
Secara sederhana berita adalah teminologi mutlak milik media massa
(majalah,tabloid,surat kabar,televisi,situs dan sebagainya). Kontruksi tulisan
berita konvensional adalah paramida terbalik. Artinya,dalam berita model ini
kepala berita menjadi tempat fakta terpenting versi redaksi tentunya.
H. JURNALISME INTERPRETATIF
Para
petinggi surat kabar kemudian mencari model alternatif penulisan untuk
menyiasati perubahan pola berita ini sekaligus menyelamatkan jurnalisme surat
kabar. Sebab kalau bersaing dalam kecepatan, sudah tentu kalah dengan online,
meskipun pernah ada yang menyiasati dia kali terbit pagi dan siang. Namun dari
segi biaya operasional sanagn besar dan tidak menguntungkan.
Dari
pemikiran itulah muncul jurnalisme interpretatif. Sebuah model jurnalistik yang
berbasis penafsiran terhadap fakta yang terdapat dalam sebuah peristiwa,suatu
pengembangan dari sebuah peristiwa. Dalam jurnalisme model ini,Fakta atau
peristiwa hanya sebagai cantolan berita.
I. JURNALISME,AGAMA,DAN PERTANGUNGJAWABAN
Indonesia
bukan negara sekuler. Di negri ini tidak ada agama yang di akui atau dinafikan.
Semua orang boleh hidup di negri ini dengan ketentuan mjutlak mengakui
pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusional.
Fungsi agama di indonesia berbeda dengan negara lain. Pengaruh agama yang kuat
dalam struktur masyarakat menyebabkan peran agama di wilayah publik sulit di
hindari. Agama bisa menjadi sumber pemecahan,kekerasan,dan eksklusivisme.
Karena itu peran agama publik di rumuskan sesuai semangat dari para pendiri
bangsa ini.
Aagma
hanya di pahami seperangkat konsep yang mengawang-awang. Agama hanya sebagai
perangkat moral sempit yang tidak ada hubungannya dengan kekuasaan
tiranik,kemiskinan kultural dan struktural,ketimpangan sosial,ketidak adilan
ekonomi dan ketertinggalnya budaya. Dengan pengertian itu agama menjadi kering
makna, tunasional,dan hanya urusan akhirat. Dalam konteks itu,terjadi deviasi
makna agama atau kesalahan memahami acara secara utuh dan sistematik.